“I’m not blaming the people, I’m blaming the system, I am simply stating that there is more debt than money so its technically impossible for everyone to pay off the banks because is simply not enough money in circulation for everyone to pay of their debts”.
Inilah kalimat seseorang yang menyebut dirinya sebagai ultimateskaters 1987 setelah menyaksikan tayangan video yang berdurasi pendek mengenai perekonomian Amerika Serikat di tahun 2007 dan jutaan warga Amerika kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, dan bergelimang utang akibat dari skandal subprime mortgage. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa Amerika Serikat mengulang kembali mimpi buruk resensi ekonomi tahun 1939.
Mortgage ialah hipotek atau kredit rumah dengan agunan. Kata mortgage berasal dari istilah hokum bahasa Perancis, yang berati matinya sebuah ikrar, sedangkan subprime merupakan gabungan dua kata untuk menunjukkan klasifikasi penerima KPR, yakni sub dan preme, ialah dibawah standar atau tidak layak menerima kredit, sementara preme adalah orang yang layak atau biasa dipakai istilah Alt-A. subprime mortgage dikenal sebagai skema kredit macet rumah, berisiko tinggi karena memang sejak awal diberikan kepada yang tidak layak menerima, bisa karena suku bunga kredit yang ditetapkan tinggi ditambah kesengajaan mengabaikan dokumen penerima kredit, seperti tidak ada verifikasi pendapatan, riwayat kerja dan catatan utang.
Dr. Robert Gifford, spikolog lingkungan asal University of Victoria memaparkan analisanya bahwa tidak mengherankan kehilangan rumah telah menimbulkan trauma berat bagi mereka. Ia menggambarkan psikologi American family setelah penyitaan rumah secara dramatis terjadi mulai 2006 dan dipredeksi menembus angka 19 juta rumah pada 2010, yang pada saat itu, harga rumah langsung drop hingga 40 persen atau terandah dalam empat tahun teakhir. Bahkan majalah business week edisi MEI 2008 menyebutkan jumlah rumah siap jual menumpuk hingga 4,55 juta akhir April. Hal ini setara akumulasi stok rumah dalam 11,2 bulan.
Tak hanya itu, Bear Stearns, bank investasi terbesar keempat di Amerika bangkrut pada Maret 2008, padahal bank ini telah berusia hampir satu abad yakni 86 tahun. Pemicu jatuhnya bank ini diromorkan telah merugikan sepanjang operasional 2007, rentetan gagal bayar nasabah KPR memperburuk laporan keuangannya. Sama halnya yang terjadi dengan Lehman Brothers, bank yang sudah ada saat perang dunia kedua ini tak dapat diselamatkan, tutup usia pada 15 september. AS mengira krisis terburuk yang terjadi dipertengahan tahun 2007, yang dialami Citigroup dan Merry Lynch merugi hingga butuh modal tembahan, namun ternyata masih ada jurang di bawah jurang, seperti Dow Jones terjun bebas terburuk selama 40 tahun.
Bahkan, efek ini berimbas langsung ke perusahaan-perusahaan investasi top dunia, seperti Inggris, Belanda dan Jepang mulai menyiapkan dana cair agar perusahaan besarnya tidak ikut kolaps. Islandia, tahun 2007 menempati urutan pertama di dunia dalam katagori human development index versi PBB. Warganya paling makmur di bumi, dilihat dari semua indicator ekonomi yang ada, tingkat pengangguran sekitar 0,5 persen dari total penduduk, kaya , merata, sehat, berkebudayaan, berpendidikan dan canggih, singkatnya surga dunia. Tapi sejak 6 oktober 2008, perdana menteri Islandia Geir Haarde muncul di televisi local mengumumkan Negara dalam kondisi darurat, diambang kebangkrutan, pemerintah menanggung utang enam kali dari nilai produk domestic bruto.
Leberalisasi perbankan telah menceburkan Negara itu pada lautan bubble economy. Glitnir, bank ketiga terbesar di Islandia telah bankrut terseret krisis keuangan di AS, Inggris, dan Negara Erofa lainnya. Bank pertama dan kedua, Landzbanki dan Kaupthing sudah dulu bangkrut. Ketiganya diambil alih pemerintah dengan warisan utang enam kali PDB Islandia yang hanya USD20 miliar. Sebelumnya kaupthing dan Glitnir menjadi pemain utama pasar mortgage dan akuisisi entitas keuangan asing di Inggris dan Skandinavia.
Majalah time, edisi 20 Oktober 2008. 6 dan 7 oktober 2008, duit sebesar USD6,5 triliun menguap begitu saja di lantai bursa global. Dana talangan USD700 miliar yang diteken oleh presiden George W Bush, kala itu, sabtu pecan sebelumnya sebagai sikap resmi pemerintah AS justru membuat kepanikan bertambah hebat, dan ongkos penyelamatan USD2,3 triliun yang dihimpun dari masing-masing Negara uni erofa juga tidak kuasa menenangkan suasana. Krisis subprime mortgage AS telah mengganti kepercayaan itu denna kekuatan. Awalnya menghinggapi para pemain saham, setelahnya papa deposan, kemudian antarentitas keuangan. Di erofa, seolahkembali pad masa kegelapan, sperti sebelum renaissance atau masa percerahan tiba. Harga saham di londen, Frankfurt, dan paris serta daratan eropa tersungkur.
Inggris menjadi episentrumnnya, media massa se dunia melaporkan neraca keuangan raksasa HSBC holdings kuartal teakhir 2006 merah, angka buruk ini berasal dari catatan buruk HSBC finace corporation anak usaha HSBC di AS yang merugi akibat tersangkut obligasi bermasalah. Akibatnya, rakyat inggris dipasaka merelakan uang pajaknya untuk membayar utang-utang northern rock dan Bradford dan bingley yang diambil alih pemerintah pada awal 2008.
Di luar erofa, Negara maju yang juga terkena dampak serius adalah jepang. Selain terjebak krisis finasnsial, ekonomi jepang juga terkena imbas kenaikan harga minyak dunia. Dalam setahun terakhir telah mendorong tingkat inflansi tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Juli 2008, jepang mencatat inflasi hingga 2,4 persen, setelah beberapa tahun mengalami deflalsi. Nilai kapitalisasi bursa jepang ambles USD250 miliar, produk MBS dan anak-anaknya uang beredar di jepang diperkirakan mencapai 700-800 miliar yen jepang, bahkan cabang lehman brother di jepang sendiri mendafarkan perlindungan kebangkrutan di pengadilan negeri Tokyo setelah induk usahanya dinyatakan bangkrut .
Sementara di Australia. Perdana menteri Australia Kevin rudd mengungmumkan jaminan penih terhadap semua dana nasabah yang disimpan di bank, jamianan diberikan tidak ahnaya atas bank local, melainkan bank asing di sana, serta credit union atau koperasi, dan pemerintah juga akan menyuntikkan dana sekitar USD 2,6 miliar ke pasar kredit perumahan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Krisis global yang melanda Amerika Serikat jelas-jelas membawa efek bola salju ke Indonesia, semua orang berharap cemas menghadapi tahun 2009. Indonesia diperkirakan akan mulai menghadapi dampak krisis global pada maret 2009. Muhammad ma’ruf mengungkapkan, kita masih bisa berinvstasi di zaman yan gakan menelan ratusan ribu orang terkena PHK, tapi yang harus dikakukan hanyalah menata kembali keraca keaungan dan mulai melakukan perencanaan keuangan yang sesuai, seperti: menabung, mewaspadai laju kartu kredit, membuka bisnis di tengah krisis, cintai produk dalam negeri, visit Indonesia all year, rupiahkan dolar yang dimiliki, pilihan investasi diantaranya saham, deposito, property, emas, investasi syariah, unit link.
Judul Asli : Tsunami financial: peluang bisnis dan investasi Indonesia dan setiap individu di tahun
2009.
Pengarang : Muhammad ma’ruf
Penerbit : Mizan, 2009
Minggu, 06 Februari 2011
MIskin dan Kaya
Dalam realita kehidupan baik di Indonesia maupun di negara lain di dunia, sering kita lihat dan temui orang kaya dan miskin. Mengapa ada kaya dan miskin? Pertanyaan ini yang timbul dalam lubuk hati saya sejak masih duduk di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Kini pertanyaan itu muncul lagi, setelah beberapa tahun terlupakan.
Ada yang mengatakan, adanya kaya dan adanya miskin itu merupakan takdir dari Sang Khaliq. Ada juga yang mengatakan, miskin itu disebabkan kemalasan seseorang dan kaya merupakan hasil dari kerja keras seseorang. Selain itu ada yang mengatakan, kemiskinan disebabkan adanya keserakahan si kaya yang tidak memberi kesempatan kepada si miskin.
Namun ada pula yang mengatakan, adanya si kaya dan si miskin itu dari keturunannya. Juga ada yang mengatakan, terjadinya kaya dan miskin karena sistem ekonomi yang digunakan.
Semua perbedaan pendapat tersebut memiliki faktor kebenaran. Miskin karena malas. Hal ini tidak selalu salah, karena bagaimana pun ada program penghilangan kemiskinan. Namun, jika si miskin sendiri tidak mau bekerja keras, bersusah payah belajar dan bekerja, berusaha untuk lepas dari kemiskinan dan membenci dirinya karena miskin, maka program tersebut akan sia-sia.
Orang kaya itu perlu dihormati. Namun, jika kekayaannya itu diperoleh dengan cara haram seperti mencuri, merampok, merampas, korupsi, kolusi, menipu, menzalimi orang lain dan semacamnya, berarti bukan kekayaan yang ada. Namun, keserakahan dengan cara haram dan melanggar ajaran agama serta hukum. Hal ini yang harus ditekankan dalam keadilan dan kebenaran, serta ketertiban hukum. Aparat kepolisian harus tegas bertindak sebagai abdi masyarakat, jangan sampai ada diskriminasi. Meskipun kekayaannya diperoleh dengan cara halal, namun harus ditekankan untuk menjadi manusia yang gemar berderma dan beramal saleh.
Kesempatan mendapatkan pekerjaan harus diwujudkan secara adil. Namun, dalam waktu bersamaan, materi pendidikan juga harus memperhatikan link and match atas pekerjaan yang tersedia.
Kita percaya takdir (ketentuan) karena termasuk salah satu Rukun Iman. Namun, kita tidak tahu kapan atau di mana takdir itu hadir atau terjadi. Artinya, kita bisa mengatakan takdir kalau usaha secara maksimal sudah dikerjakan. Kalau kita belum melakukan usaha maksimal, bukan takdir yang sebenarnya namun kemalasan berkedok takdir yang terjadi.
Kita sering melihat bahkan banyak orang mengatakan, kaya dan miskin itu merupakan keturunan. Pendapat seperti itu tidak selalu salah dan benar. Apabila seseorang diwarisi kekayaan tetapi ia tidak bisa menggunakan dan mengelolanya, maka lambat laun kekayaannya itu habis dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Bahkan tak tertutup kemungkinan, ia menjadi orang miskin. Begitu pun sebaliknya. Kalau bisa mengelola dan menggunakan kekayaannya dengan baik, maka ia akan menjadi orang yang sukses melalui kekayaannya itu.
Sistem ekonomi sekarang. Banyak ekonom mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kaya dan miskin adalah sistem ekonomi yang digunakan 'kurang tepat' dalam suatu negara. Pada gilirannya melahirkan negara yang semakin hari semakin kaya dan negara yang semakin miskin. Dengan kata lain, pengaplikasian sistem ekonomi tersebut melahirkan ketidakseimbangan dalam perkembangan ekonomi dalam suatu negara.
Oleh karena itu, marilah kita mawas diri. Lebih baik kita intropeksi diri. Menyalahkan diri kita sendiri, bukan menyalahkan Allah atau orang lain. Wallahu'alam bis shawab.
e-mail: ika_25ska@yahoo.id
Dimuat Banjarmasin Post, 2007
Ada yang mengatakan, adanya kaya dan adanya miskin itu merupakan takdir dari Sang Khaliq. Ada juga yang mengatakan, miskin itu disebabkan kemalasan seseorang dan kaya merupakan hasil dari kerja keras seseorang. Selain itu ada yang mengatakan, kemiskinan disebabkan adanya keserakahan si kaya yang tidak memberi kesempatan kepada si miskin.
Namun ada pula yang mengatakan, adanya si kaya dan si miskin itu dari keturunannya. Juga ada yang mengatakan, terjadinya kaya dan miskin karena sistem ekonomi yang digunakan.
Semua perbedaan pendapat tersebut memiliki faktor kebenaran. Miskin karena malas. Hal ini tidak selalu salah, karena bagaimana pun ada program penghilangan kemiskinan. Namun, jika si miskin sendiri tidak mau bekerja keras, bersusah payah belajar dan bekerja, berusaha untuk lepas dari kemiskinan dan membenci dirinya karena miskin, maka program tersebut akan sia-sia.
Orang kaya itu perlu dihormati. Namun, jika kekayaannya itu diperoleh dengan cara haram seperti mencuri, merampok, merampas, korupsi, kolusi, menipu, menzalimi orang lain dan semacamnya, berarti bukan kekayaan yang ada. Namun, keserakahan dengan cara haram dan melanggar ajaran agama serta hukum. Hal ini yang harus ditekankan dalam keadilan dan kebenaran, serta ketertiban hukum. Aparat kepolisian harus tegas bertindak sebagai abdi masyarakat, jangan sampai ada diskriminasi. Meskipun kekayaannya diperoleh dengan cara halal, namun harus ditekankan untuk menjadi manusia yang gemar berderma dan beramal saleh.
Kesempatan mendapatkan pekerjaan harus diwujudkan secara adil. Namun, dalam waktu bersamaan, materi pendidikan juga harus memperhatikan link and match atas pekerjaan yang tersedia.
Kita percaya takdir (ketentuan) karena termasuk salah satu Rukun Iman. Namun, kita tidak tahu kapan atau di mana takdir itu hadir atau terjadi. Artinya, kita bisa mengatakan takdir kalau usaha secara maksimal sudah dikerjakan. Kalau kita belum melakukan usaha maksimal, bukan takdir yang sebenarnya namun kemalasan berkedok takdir yang terjadi.
Kita sering melihat bahkan banyak orang mengatakan, kaya dan miskin itu merupakan keturunan. Pendapat seperti itu tidak selalu salah dan benar. Apabila seseorang diwarisi kekayaan tetapi ia tidak bisa menggunakan dan mengelolanya, maka lambat laun kekayaannya itu habis dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Bahkan tak tertutup kemungkinan, ia menjadi orang miskin. Begitu pun sebaliknya. Kalau bisa mengelola dan menggunakan kekayaannya dengan baik, maka ia akan menjadi orang yang sukses melalui kekayaannya itu.
Sistem ekonomi sekarang. Banyak ekonom mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kaya dan miskin adalah sistem ekonomi yang digunakan 'kurang tepat' dalam suatu negara. Pada gilirannya melahirkan negara yang semakin hari semakin kaya dan negara yang semakin miskin. Dengan kata lain, pengaplikasian sistem ekonomi tersebut melahirkan ketidakseimbangan dalam perkembangan ekonomi dalam suatu negara.
Oleh karena itu, marilah kita mawas diri. Lebih baik kita intropeksi diri. Menyalahkan diri kita sendiri, bukan menyalahkan Allah atau orang lain. Wallahu'alam bis shawab.
e-mail: ika_25ska@yahoo.id
Dimuat Banjarmasin Post, 2007
Senin, 10 Januari 2011
Mempertanggungjawabkan Tugas Akhir
Sayup-sayup suara terdengar dalam suatu ruang berukuran 4x4. Beberapa perempuan sedang duduk berjejer terlihat tegang dengan ekpresinya masing-masing. Seorang lelaki separoh baya beberapa kali melontarkan pertanyaan kepada seorang wanita yang duduk berseberangan dengannya. Dengan gaya santai, si wanita menjawab pelan.
Waktupun berlalu dan pertanyaan berikutnya belangsung dengan orang yang berbeda. Kini sang penanya adalah seorang lelaki termuda yang berada di depannya. Berkulit putih dan berperawakan tinggi. Sesekali si penanya melontarkan beberapa kalimat dan membolak-balikkan kumpulan kertas yang di bungkus map hijau. “wah, ini masih banyak yang harus direvisi, ada yang kurang lengkap” ujar laki-laki tersebut.
Sambil meng-unggut, si wanita itu terlihat sedih. Ia mengatakan, nanti saya akan perbaiki dan menambahkannya. Tak hanya itu, saat tanya jawab berlangsung di ruangan, wanita itu semakin terdiam. Memandang kosong kea rah depan, kea rah duduknya di lelaki penanya.
Akhirnya, waktu pun berlalu dan pengumuman hasil presentasi tugas akhir akademik dibacakan. Semua yang berada diruangan seolah membisu. Dan para hadirin yang berhadir dipersilahkan untuk berdiri. Dengan getaran dada si wanita dan para hadirin, nilai akhir dibacakan oleh ketua tim penguji skripsi dengan seksama.
“Ujian akhir skripsi ini dinyatakan diterima dengan bersyarat, yaitu yang bersangkutan harus merevisi bagian yang telah disebutkan tadi. Dengan ini, maka kami sebagai tim penguji menyatakan, bahwa mendapatkan nilai xx,xx. Selamat, sekarang bergelar S.PdI”
Tepuk tangan pun memenuhi ruangan, namun si wanita itu terlihat sedih. Sesekali tersenyum. Proses ucapan terimasih berlalu…
Seperti biasa ketika mahasiswa telah melaksanakan ujian akhir skripsi, aku selalu memberikan ucapan selamat kepada mereka. Ku sapa dan ku dekati wanita itu. Tapi apa yang terjadi, dia memeluk ku erat. Sambil meneteskan air mata ia mengatakan bahwa dirinya hanya bisa mendapatkan nilai itu.
“Ka, ulun hanya dapat nilai B, hikssss” ungkapnya
‘Tidak apa ding, yang penting anti sudah berusaha. Selamat telah memperoleh gelar sarjana, jadikan mau ke padang? Kata ku setengah berbisik, sambil menepuk-nepukan pundaknya saat dalam pelukan hangat.
Banjarmasin, 10 Januari 2011
Jadi teringat janjiku kepada para guruku. InsyaAllah, adakan penelitian lagi dan memberikan kontribusi untuk EI ^__^
Waktupun berlalu dan pertanyaan berikutnya belangsung dengan orang yang berbeda. Kini sang penanya adalah seorang lelaki termuda yang berada di depannya. Berkulit putih dan berperawakan tinggi. Sesekali si penanya melontarkan beberapa kalimat dan membolak-balikkan kumpulan kertas yang di bungkus map hijau. “wah, ini masih banyak yang harus direvisi, ada yang kurang lengkap” ujar laki-laki tersebut.
Sambil meng-unggut, si wanita itu terlihat sedih. Ia mengatakan, nanti saya akan perbaiki dan menambahkannya. Tak hanya itu, saat tanya jawab berlangsung di ruangan, wanita itu semakin terdiam. Memandang kosong kea rah depan, kea rah duduknya di lelaki penanya.
Akhirnya, waktu pun berlalu dan pengumuman hasil presentasi tugas akhir akademik dibacakan. Semua yang berada diruangan seolah membisu. Dan para hadirin yang berhadir dipersilahkan untuk berdiri. Dengan getaran dada si wanita dan para hadirin, nilai akhir dibacakan oleh ketua tim penguji skripsi dengan seksama.
“Ujian akhir skripsi ini dinyatakan diterima dengan bersyarat, yaitu yang bersangkutan harus merevisi bagian yang telah disebutkan tadi. Dengan ini, maka kami sebagai tim penguji menyatakan, bahwa mendapatkan nilai xx,xx. Selamat, sekarang bergelar S.PdI”
Tepuk tangan pun memenuhi ruangan, namun si wanita itu terlihat sedih. Sesekali tersenyum. Proses ucapan terimasih berlalu…
Seperti biasa ketika mahasiswa telah melaksanakan ujian akhir skripsi, aku selalu memberikan ucapan selamat kepada mereka. Ku sapa dan ku dekati wanita itu. Tapi apa yang terjadi, dia memeluk ku erat. Sambil meneteskan air mata ia mengatakan bahwa dirinya hanya bisa mendapatkan nilai itu.
“Ka, ulun hanya dapat nilai B, hikssss” ungkapnya
‘Tidak apa ding, yang penting anti sudah berusaha. Selamat telah memperoleh gelar sarjana, jadikan mau ke padang? Kata ku setengah berbisik, sambil menepuk-nepukan pundaknya saat dalam pelukan hangat.
Banjarmasin, 10 Januari 2011
Jadi teringat janjiku kepada para guruku. InsyaAllah, adakan penelitian lagi dan memberikan kontribusi untuk EI ^__^
Munajat
Saat kesunyian tiba disepertiga malam. Meluluhlantakan jiwa yang gelisah. Menentramkan hati yang bergemuruh. Menyembuhkan luka yang dalam. Penawar rindu yang terpendam.
Di sepertiga malam itu pula, saat banyaknya manusia yang terlelap, munajat ku panjatkan agar mimpi-mimpi itu bisa kubangun, melangkah kedepan dengan ridha-Nya.. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahu
Di sepertiga malam itu pula, saat banyaknya manusia yang terlelap, munajat ku panjatkan agar mimpi-mimpi itu bisa kubangun, melangkah kedepan dengan ridha-Nya.. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahu
Kamis, 30 Desember 2010
Bukan Siraturrahmi Biasa
Senin itu bukan hari biasa, sebab aktifitas sejak awal desember semakin bertambah. biarpun letih melanda, ku harus tetap menikmati hari-hari sebagai pejalan kaki (^__^), menjadi juru jepret ibu-ibu dalam siraturrami ke tiga tempat sekaligus dalam satu hari.. ehhmmmmmm yummy
Berkunjung ke rumah sakit sari mulia. Seorang perempuan setengah baya nan anggun menyapa kami, mempersilakan masuk, duduk dan ngobrol. Beliau adalah ibu Dr Soedarto. Istri dari Dr Soedarto, pemilik rumah Sakit Sari Mulia kota Banjarmasin asal Padang, mempunyai empat anak.
Dalam pertemuan tersebut beliau bercerita, salah satu dari empat anak beliau sekarang tinggal di Jerman, karena bersuamikan orang Jerman dan dinikahkan oleh orang Indonesia indo arab tapi tinggal di Jerman. Di Jerman pula ada mesjid, dan itu adalah mesjid satu-satunya disana. Saat pernikahan itupula, beliau beserta suami harus ke Jerman, ketika jerman musim salju. ”Jadi terasa dingin, dan gelap” imbuhnya.
”Kok bisa gelap bu?” tanya salah seorang ibu dengan penasaran.
”Iya, karena jendela-jendela luar semuanya tertutup oleh salju, matahari pun tak terlihat”
Disamping itu, ibu Soedarto juga bercerita tentang anak laki-laki beliau yang pada tahun 2009 lalu telah menikah dengan seorang anak Dokter asal Tanah Bumbu dan sekaligus sebagai politus , yakni Dr Zairullah Azhar. Yang sekatang dari hasil perkawinan tersebut di karuniai satu orang anak.
Dalam pembicaraan selanjutnya, beliau sangat menyayangkan sikap pemerintah setempat, yang telah mengambil karyawan terbaiknya sebanyak tiga orang menjadi pengawai negeri sipil di bidang kesehatan. ” Padahal kami telah mengkuliahkannya lhoo bu, sampai jadi spesialis” ungkapnya dengan nada sedih.
Menurut beliau pemerintah tidak melihat kepada perusahaan swasta, buktinya dengan seenaknya mengambil keryawan tersebut.
Mengenai perjalanan hidup, ibu Soedarto mengungkapkan, bahwa dulunya beliau berasal dari kalangan grass rot, yang lulus kuliah harus membanting tulang bekerja untuk menyekolahkan adik-adik beliau agar menjadi orang berhasil. Dengan makan nasi jagung —pada waktu itu— hal itu merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Alhasil, dengan pengorbanan silam, kini beliau merasakan menjadi salah seorang wanita sukses yang berada di Banjarmasin.
Pesan yang dapat dimabil, yakni hidup harus berusaha (labora urgu sum)
Berkunjung ke rumah sakit sari mulia. Seorang perempuan setengah baya nan anggun menyapa kami, mempersilakan masuk, duduk dan ngobrol. Beliau adalah ibu Dr Soedarto. Istri dari Dr Soedarto, pemilik rumah Sakit Sari Mulia kota Banjarmasin asal Padang, mempunyai empat anak.
Dalam pertemuan tersebut beliau bercerita, salah satu dari empat anak beliau sekarang tinggal di Jerman, karena bersuamikan orang Jerman dan dinikahkan oleh orang Indonesia indo arab tapi tinggal di Jerman. Di Jerman pula ada mesjid, dan itu adalah mesjid satu-satunya disana. Saat pernikahan itupula, beliau beserta suami harus ke Jerman, ketika jerman musim salju. ”Jadi terasa dingin, dan gelap” imbuhnya.
”Kok bisa gelap bu?” tanya salah seorang ibu dengan penasaran.
”Iya, karena jendela-jendela luar semuanya tertutup oleh salju, matahari pun tak terlihat”
Disamping itu, ibu Soedarto juga bercerita tentang anak laki-laki beliau yang pada tahun 2009 lalu telah menikah dengan seorang anak Dokter asal Tanah Bumbu dan sekaligus sebagai politus , yakni Dr Zairullah Azhar. Yang sekatang dari hasil perkawinan tersebut di karuniai satu orang anak.
Dalam pembicaraan selanjutnya, beliau sangat menyayangkan sikap pemerintah setempat, yang telah mengambil karyawan terbaiknya sebanyak tiga orang menjadi pengawai negeri sipil di bidang kesehatan. ” Padahal kami telah mengkuliahkannya lhoo bu, sampai jadi spesialis” ungkapnya dengan nada sedih.
Menurut beliau pemerintah tidak melihat kepada perusahaan swasta, buktinya dengan seenaknya mengambil keryawan tersebut.
Mengenai perjalanan hidup, ibu Soedarto mengungkapkan, bahwa dulunya beliau berasal dari kalangan grass rot, yang lulus kuliah harus membanting tulang bekerja untuk menyekolahkan adik-adik beliau agar menjadi orang berhasil. Dengan makan nasi jagung —pada waktu itu— hal itu merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Alhasil, dengan pengorbanan silam, kini beliau merasakan menjadi salah seorang wanita sukses yang berada di Banjarmasin.
Pesan yang dapat dimabil, yakni hidup harus berusaha (labora urgu sum)
Senin, 27 Desember 2010
Sama Tapi Berbeda
Menikmati perjalan pagi pasca turunnya hujan di Jalan A.Yani Kalsel, sejuk. Dari perjalanan itu pulah, saya mengamati beberapa aktifitas sama namun berbeda. Diantaranya kegitan poltas yang mengatur lalu lintas jalan tersebut.
Seperti di jalan A Yani Km 14.00, poltas laki-laki yang berperakwakan besar dan terlihat masih muda mencoba menghentikan lalu lalang kendaraan bermotor dan mobil yang lewat untuk mempersilakan kendaraan lain memutarkan arah. Namun, apa yang dilakukan si poltas kurang di gubris oleh di pengendara bermotor yang lewat, mereka tetap melintas jalan terus, walaupun si poltas mempluitkan benda yang tergantung di lehernya dengan salah satu lengannya memberikan tanda STOP.
Berbeda di jalan A.Yani Km 7.00, seorang poltas laki-laki berperawakan kecil, lebih tua, saat seorang kakek membawa banyak barang mau menyeberangi jalan, si poltas tanpa ragu-ragu langsung meng-STOP kendaraan yang lewat dan mempersilahkan kakek tua tersebut menyeberang diiringi gandengan tangan si poltas.
Seseatu yang sama, yakni sama-sama terjadi di jalan, tapi berbeda sikap dan tindakan. Semoga ada pelajaran, dan coba analisis sendiri kejadian tersebut..
Seperti di jalan A Yani Km 14.00, poltas laki-laki yang berperakwakan besar dan terlihat masih muda mencoba menghentikan lalu lalang kendaraan bermotor dan mobil yang lewat untuk mempersilakan kendaraan lain memutarkan arah. Namun, apa yang dilakukan si poltas kurang di gubris oleh di pengendara bermotor yang lewat, mereka tetap melintas jalan terus, walaupun si poltas mempluitkan benda yang tergantung di lehernya dengan salah satu lengannya memberikan tanda STOP.
Berbeda di jalan A.Yani Km 7.00, seorang poltas laki-laki berperawakan kecil, lebih tua, saat seorang kakek membawa banyak barang mau menyeberangi jalan, si poltas tanpa ragu-ragu langsung meng-STOP kendaraan yang lewat dan mempersilahkan kakek tua tersebut menyeberang diiringi gandengan tangan si poltas.
Seseatu yang sama, yakni sama-sama terjadi di jalan, tapi berbeda sikap dan tindakan. Semoga ada pelajaran, dan coba analisis sendiri kejadian tersebut..
Minggu, 26 Desember 2010
Mencari Emas se Gunung Untuk Sesuap Nasi
Diantara ribuan pulau yang ada di nusantara, pulau Kalimantan Selatan lah yang ia pilih sebagai planning hidup, untuk memperbaiki nasib.
Adalah Setyo, seorang lelaki kelahiran 1982. Alumnus Fisif UMSIDA Semarang ini hijrah ke Kalimantan Selatan pada pertengahan 2009 silam dan berdomisili di kabupaten HSS atau kota Kandangan. Sebagai anak tertua, Setyo berkeinginan untuk membantu meringankan beban keluarganya yang berada di Solo. Karena di Solo sulit memperoleh perkerjaan, maka dengan bismillah, ia menekadkan diri berhijarah ke Kalsel. Sesampai di Kalsel, pemerintah Kalsel lewat Badan Kepegawaian Daerah (BKD) telah membuka lowongan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka tak bertele-tele, Setyo melamar menjadi PNS. Setelah tes yang memakan waktu seharian, ternyata Setyo dinyatakan lulus seleksi CPNS di HSS dan diletakkan di bagian Humas DPRD HSS sesuai dengan pendidikannya yakni Fisif.
Hanya beberapa bulan berada di Kandangan, Setyo sudah dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai sosok yang religius dan ringan tangan, serta giat bekerja. Tak heran, Setyo banyak yang menggemarinya termasuk termasuk ibu-ibu yang telah menganggap Setyo sebagai anaknya sendiri.
Setyo melihat, daerah Kandangan ada yang berbeda dengan daerah asalnya, yakni Solo. Menurutnya, lahan yang berada di Kandangan masih banyak kosong tanpa ditumbuhi tanamanan di atasnya, tak seperti di Solo dan Semarang, yang masyarakatnya telah memberdayakan lahan kosong dengan berbagai macam tanaman, hingga tak ada lagi ruang yang tak tertamani. Dengan modal seadanya dan hasil kongsian paman, ia dapat membeli tanah sebanyak 12 hektar untuk dapat dimanfaatkan, agar ditumbuhi singkong. “Hasilnya, luar biasa” katanya sambil tersenyum mekar.
Setyo pun rajin ke perpusatakaan daerah Kandangan untuk membaca buku-buku biologi tentang tumbuhan, khususnya mengenai singkong, agar hasil yang didapat maksimal. Disamping mempelajari dari buku-buku, Setyo dalam satu bulan, harus bermalam 4 kali di ladang singkong apalagi masa panen semakin dekat, karena daerah ladangnya saat malam tiba, serombongan hewan babi selalu datang menyerbu untuk memakan singkong tersebut sebelum di panen. Dan ia mengambil hari sabtu dan minggu untuk menginab di ladang, karena dua hari tersebut merupakan hari libur bagi PNS dan pegawai swasta pada umumnya.
Setyo mengaku itulah hidup, apapun pekerjaan itu yang penting halal dan thoyyib. ” Hidup itu harus bekerja, mencari emas se-gunung untuk sesuap nasi, tapi jangan lupa dengan yang sang pemberi rezeki”, sambungnya dengan loghat Jawa kental.
Saat akhir itu..
Entah apa yang ada dipikiran Setyo dalam beberapa bulan terakhir, tepat di akhir tahun 2009, Setyo sangat rajin dalam beribah dibanding bulan-bulan yang lewat. Ia terus saja mengingat kematian, seolah-olah dia menantikan kehidupan abadi akan menemuinya. Lelaki yang memiliki jejaring sosial seperti facebook ini, selalu menuliskan status hidup, sampai-sampai seorang kenalannya di facebook yang menulis status, “hidup adalah terminal akhir’ juga dikomentarinya, dengan mengatakan, “siapa banyak amal di dunia, maka ia berhak untuk mendapatkan balasannya di akhirat kelak. Dan sebaliknya”.
Hari demi hari telah berlalu, berganti bulan, dan tiba bulan Januari 2010. Kamis malam, adalah hari seperti biasa, namun tidak demikian bagi Setyo. Menurutnya, malam itu adalah malam terakhir baginya, namun hanya dirinyalah yang mengetahui perasaan tersebut. Malam itu juga dia membuka facebook, lalu menuliskan status berbahasa Jawa yang berbunyi” Mikul duwur mendem jero,"capek dech!" beberapa teman yang kenal dengannya turut mengomentari status tersebut, tapi tak ada komentar balik darinya. Besoknya, tepat hari jumat, tanggal 16 Januari 2010 sebuah kabar tentang Setyo memberitahukan bahwa dia telah meninggal dunia, dan jenazahnya di semanyamkan di Solo.
Tulisan ini hanyalah kisah kecil dari kisah hidup almarhum Setio Pujiandi, untuk mengenang sosok beliau.
Adalah Setyo, seorang lelaki kelahiran 1982. Alumnus Fisif UMSIDA Semarang ini hijrah ke Kalimantan Selatan pada pertengahan 2009 silam dan berdomisili di kabupaten HSS atau kota Kandangan. Sebagai anak tertua, Setyo berkeinginan untuk membantu meringankan beban keluarganya yang berada di Solo. Karena di Solo sulit memperoleh perkerjaan, maka dengan bismillah, ia menekadkan diri berhijarah ke Kalsel. Sesampai di Kalsel, pemerintah Kalsel lewat Badan Kepegawaian Daerah (BKD) telah membuka lowongan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Maka tak bertele-tele, Setyo melamar menjadi PNS. Setelah tes yang memakan waktu seharian, ternyata Setyo dinyatakan lulus seleksi CPNS di HSS dan diletakkan di bagian Humas DPRD HSS sesuai dengan pendidikannya yakni Fisif.
Hanya beberapa bulan berada di Kandangan, Setyo sudah dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai sosok yang religius dan ringan tangan, serta giat bekerja. Tak heran, Setyo banyak yang menggemarinya termasuk termasuk ibu-ibu yang telah menganggap Setyo sebagai anaknya sendiri.
Setyo melihat, daerah Kandangan ada yang berbeda dengan daerah asalnya, yakni Solo. Menurutnya, lahan yang berada di Kandangan masih banyak kosong tanpa ditumbuhi tanamanan di atasnya, tak seperti di Solo dan Semarang, yang masyarakatnya telah memberdayakan lahan kosong dengan berbagai macam tanaman, hingga tak ada lagi ruang yang tak tertamani. Dengan modal seadanya dan hasil kongsian paman, ia dapat membeli tanah sebanyak 12 hektar untuk dapat dimanfaatkan, agar ditumbuhi singkong. “Hasilnya, luar biasa” katanya sambil tersenyum mekar.
Setyo pun rajin ke perpusatakaan daerah Kandangan untuk membaca buku-buku biologi tentang tumbuhan, khususnya mengenai singkong, agar hasil yang didapat maksimal. Disamping mempelajari dari buku-buku, Setyo dalam satu bulan, harus bermalam 4 kali di ladang singkong apalagi masa panen semakin dekat, karena daerah ladangnya saat malam tiba, serombongan hewan babi selalu datang menyerbu untuk memakan singkong tersebut sebelum di panen. Dan ia mengambil hari sabtu dan minggu untuk menginab di ladang, karena dua hari tersebut merupakan hari libur bagi PNS dan pegawai swasta pada umumnya.
Setyo mengaku itulah hidup, apapun pekerjaan itu yang penting halal dan thoyyib. ” Hidup itu harus bekerja, mencari emas se-gunung untuk sesuap nasi, tapi jangan lupa dengan yang sang pemberi rezeki”, sambungnya dengan loghat Jawa kental.
Saat akhir itu..
Entah apa yang ada dipikiran Setyo dalam beberapa bulan terakhir, tepat di akhir tahun 2009, Setyo sangat rajin dalam beribah dibanding bulan-bulan yang lewat. Ia terus saja mengingat kematian, seolah-olah dia menantikan kehidupan abadi akan menemuinya. Lelaki yang memiliki jejaring sosial seperti facebook ini, selalu menuliskan status hidup, sampai-sampai seorang kenalannya di facebook yang menulis status, “hidup adalah terminal akhir’ juga dikomentarinya, dengan mengatakan, “siapa banyak amal di dunia, maka ia berhak untuk mendapatkan balasannya di akhirat kelak. Dan sebaliknya”.
Hari demi hari telah berlalu, berganti bulan, dan tiba bulan Januari 2010. Kamis malam, adalah hari seperti biasa, namun tidak demikian bagi Setyo. Menurutnya, malam itu adalah malam terakhir baginya, namun hanya dirinyalah yang mengetahui perasaan tersebut. Malam itu juga dia membuka facebook, lalu menuliskan status berbahasa Jawa yang berbunyi” Mikul duwur mendem jero,"capek dech!" beberapa teman yang kenal dengannya turut mengomentari status tersebut, tapi tak ada komentar balik darinya. Besoknya, tepat hari jumat, tanggal 16 Januari 2010 sebuah kabar tentang Setyo memberitahukan bahwa dia telah meninggal dunia, dan jenazahnya di semanyamkan di Solo.
Tulisan ini hanyalah kisah kecil dari kisah hidup almarhum Setio Pujiandi, untuk mengenang sosok beliau.
Langganan:
Postingan (Atom)