Rabu, 20 April 2016
Selamat Jalan Kawan
"Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan"
Entah, dari mana kata-kata bijak itu berasal, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap perpisahan pasti ada air mata, karena terkenang akan suatu hal. Baik atau buruknya, dan setiap yang terkenang, pasti berada di akhir pertemuan, tidak dapat diawalnya..
Muhammad Said Fadli, namanya. Saya kenal sejak tahun 2006 silam, saat ia berada dalam lingkaran tarbiyah dan berada di posisi sebagai staf Kesekretariatan Komisariat IAIN Antasari Banjarmasin, dan saya berada di atasnya sebagai koordinator.
Dalam keadaan seperti itu, saya sering berinteraksi saat rapat di balik tirai, dan saya baru mengetahui bahwa nama Said ialah lelaki kurus ahli dalam bahasa Inggris...
next..
Sabtu, 14 November 2015
Lima Bulan Sudah
“malam itu di tanjung priok aku mampir ke Mesjid put,
sembahyang dan aku melihat Buya Hamka sedang ceramah di dalamnya” ucap abah memulai cerita tujuh bulan yang lalu usai makan
malam, mengingat nostalgia di tahun 1960an
Tempat makan merupakan tempat yang sangat urgent bagi orang di rumah, sebab tempat makan bukan saja sebagai
tempat menambahnya asupan makan untuk tubuh tapi juga sebagai tempat diskusi.
Penempatan diskusi inilah yang tak pernah lepas dari tradisi orang-orang di
rumah ku, diskusi sambil makan. Beberapa tren juga mengalami hal yang sama di
luar rumahku, pernah aku di undang makan sambil diskusi yang akhir-akhirnya
adalah syuro proker dan evaluasi, beban berat di pundak.
Kembali ke cerita abah. Itulah segelintir pengalaman abah
merantau ke daerah orang untuk menuntut ilmu di akademik ilmu bangunan di kota
Batavia. Menjelajah dari mesjid ke mesjid, mengikuti pengajian di dalamnya.
Walaupun beliau adalah kaum tua, untuk belajar ilmu agama tidak memandang
apakah kaum tua atau kaum muda karena mereka merupakan wajhah transfer ilmu.
Hari ini aku terkenang abah, lima bulan abah sudah tidak
menemani kami. Terakhir bertemu di ruang ICU, ruang paling angker bagiku. Bukan
saja abahku yang di rawat disana, tapi orang-orang yang lebih muda setengah
umur dari abah juga di rawat disana. Angker. Aku melihat abah di kaca paling
belakang ternganga karena infeksi paru-paru itu penyebabnya. Jika seorang
pujangga mengatakan without you I felt so loss aku juga demikian mengatakan. Ya
Allah, ampunilah dosanya, limpahkanlah beliau dengan Rahmat-Mu, lapangkanlah
kuburannya dan masukkanlah beliau ke dalam surga-Mu. Amin..
Jumat, 14 Februari 2014
Ana Laa Afham Fil Siyasi
Judul diatas kalau di terjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi aku tidak paham di dalam politik. Dengan persi bahasa arab
itulah aku tak sengaja melontarkannya dalam sebuah acara di hari minggu. Memang
hidup tak pernah lepas dengan politik, segala hal kebijakan mengandung unsur
politik, apapun itu. Namun, adakalanya kita tidak menyadarinya. Aspek politik
inilah yang tak pernah terlepas dari mata rantai kehidupan. Karena di dalam
pemerintahan memerlukan politik, dan juga di dalam ekonomi sangat membutuhkan
politik, yang kalau disederhanakan politik merupakan seni taknik dan strategi.
Tidak ada yang salah dalam politik. Secara tiore politik bagi sebagian orang
adalah ilmu yang menyenangkan, sebab berdiplomatik juga bagian dari politik.
Bagaimana strategi untuk memakmurkan rakyat dan mensejahterakannya dengan
prinsip keadilan. Dalam hal ini, membutuhkan politik. Dengan langkah-langkah
yang jitu dan di dukung dengan statmen-statmen yang kridibel.
Namun, aku menjadi tak paham dengan politik, jika politik
itu sendiri diselewengkan oleh pelakunya sendiri. Mereka menggunakan wewenang
kekuasaan dengan politik hanya untuk memenuhi kepuasaan sendiri dan nafsunya
bahkan demi kelompoknya yang hanya dalam waktu yang sesaat ini dan akhirnya
menyakiti orang banyak dan banyak masyarakat yang tertindas.
Aku menjadi tak paham dengan politik, ketika kebenaran
telah menjadi tabu bagi para pelakunya. Segala macam cara di halalkan untuk
mendapat apa yang diinginkan, tanpa memperhitungkan dampak buruknya. Kawan akan
berubah menjadi lawan, dan boleh jadi lawanpun akan menjadi kawan karif.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan politik, politik
adalah politik, tapi para pelaku politiklah yang telah berbuat gap.
Ingat bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung
tinggi kebenaran.
11 february 2014
Minggu, 09 Februari 2014
Altar
Konon jika sebuah altar yang diletakkan di atas pintu
rumah, maka akan menolak roh dan makhluk jahat yang ingin masuk ke dalam rumah,
karena para dewa bersemanyam di altar akan melindungi rumah tersebut. Begitulah
kira-kira kepercayaan agama shinto, Cina, yang biasanya tayang di TV, pada masa
kecilku. Jadi tak heran, setiap rumah orang chines terdapat altar diatas pintu
depannya.
Altar tersebut berbentuk pesegi delapan, disampingnya
terdapat gambar dewa-dewa, binatang seperti anjing, ular, tulisan-tulisan cina
dan ditengahnya terdapat cermin bulat. Aku hanya memandang sepintas benda
tersebut setelah sekian lama aku baru tau bahwa itu adalah altar, benda keramat
film2 mandarin yang ku tonton saat aku masih SD. Penasaran, aku ambil gambar
saja ketika aku berada di rumah Rara.
Walaupun mereka ada yang muslim, namun kepercayaan itu
masih melekat terhadap mereka. Termasuk rumah yang berada di komplek
persadamas, yang mayoritas penduduknya adalah chines, jadi jika aku ke komplek
tersebut karena suatu urusan, sering melihat anak-anak chines bermain basket.
Mereka tersenyum, dan adapula yang menyembunyikan wajahnya di balik bola
basket, dengan diiringi senyum yang menawan. Senyum itu seperti ika, hehehe..
Lain halnya ketika aku bertendang ke tempat prakteknya
Muhammad Yusuf di kampung melayu, Banjarmasin. Pak Yusuf, seorang muslim asal
Chines, di meja tempat praktek beliau
terdapat banyak kata-kata bijak, bertuliskan huruf cina. Hampir seluruh
meja terdapat kata-kata tersebut. Memang negeri tirai bambu ini terkenal dengan
kaya budayanya.
On february 9, 2014
Kamis, 02 Januari 2014
The children
Miss Ika cantik, keep
smile. Tulis Fatur dalam selembar kertas, yang dibaca nyaring oleh Shava.
Dan didengar oleh yang lain, sehingga mereka semua tersenyum. “kamu juga
tampan” sahut pujiku kepada mereka.
“syukur, untung miss tak katakan kami cantik, kalau
cantik kan cewe, hehehe”.
Dasar anak-anak, adakalanya mereka sangat menyenangkan,
namun disisi lain juga menyebalkan. “Namun, mereka polos. Apa adanya kalau
bicara dan menilai” kata Alma Sofia saat bercerita kebingungan memilih baju
untuk dipakainya. Dan kehidupan anak-anak itu sungguh menyenangkan. Andai
kehidupan anak-anak itu bisa terulang lagi. Bagaimana ya rasanya. Aku berharap
semoga saja tidak. Sebab, pernah aku menjumpai orang dewasa namun tingkah
lakunya seperti anak-anak, tak mau dewasa, aih na’udzubillah. Dan pernah juga aku menemui seseorang yang wajahnya
masih anak-anak, tapi tingkahnya sudah dewasa dan umurnya pun juga dewasa, babyface.
Di waktu yang lain, menjelang siang di hari sabtu itu aku
ngobrol dengan seorang pengajar PAUD, dan menanyakan asal tempat tinggal beliau
yang saat itu aku berada di Martapura untuk suatu urusan. “Dari Martapura sini
aja” sabut ibu yang diperkirakan berumur 46 tahun.
Tentang PAUD, aku teringat Awi, seorang anak tetangga
yang sekarang duduk di kelas 2 MI. Awi, tak bisa membaca. Saking parahnya,
hurup al phabet saja ia kurang hapal,
dan mengingatnya. Padahal Awi sebelum masuk MI, sudah dimasukkan oleh orang
tuanya ke PAUD. Sebelum masuk SD atau MI, pemerintah mencanangkan supaya
anak-anak didik sudah bersekolah di PAUD atau TK, agar kedepannya kelas satu SD
atau MI sudah bisa baca maupun tulis. Namun, pada realnya ada beberapa murid yang belum atau kurang bisa baca,
walaupun sudah bersekolah di PAUD. Andai semua guru Indonesia sekarang seperti
Omar Bakrie, boleh jadi semua anak didiknya cerdas-cerdas dan Indonesia akan
menjadi negara maju dan semakin sejahtera. Karena Omar Bakrie berorintasi untuk
mencerdaskan anak bangsa bukan sekadar mencari uang atau karier.
“apa kendalanya bu mengajar di PAUD?” tanyaku sambil
bersantai memandangi rintikan hujan, yang kala itu hujan turun cukup deras.
“menyenangkan, rame” sahut si ibu
“iya bu, hehe. Jadi, kendalanya apa bu? tanyaku kembali
Si ibu terdiam, tak menjawab. Bisa jadi si ibu belum tau
apa arti kendala, sehingga beliau salah jawab dan terdiam. Atau bahkan ada top secret di sekolah sehingga tidak
bisa di ceritakan.
“kalau lulus PAUD, apakah setiap murid di jamin untuk
bisa membaca bu”
“aku tidak berani menjamin, ding. Namun, biasanya kalau siswa sudah lulus dari sekolahan kami,
minimal sudah mengetahui hurup al phabet,
dan bisa melapalkannya” jawab si ibu. Lain
pengajar lain pula metodenya dan niatnya, hehe. Sahutku dalam hati. Semoga
saja guru-guru yang ada indonesia berpikiran bahwa mengajar bukan untuk
mengejar materi tapi untuk membangun peradaban.
at Dawn, 1st january 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
